Pemeluk-Pemeluk Islam Pertama
Khadijah ra kemudian ia pergi menjumpai saudara
sepupunya (anak paman), Waraqa b. Naufal, seorang penganut agama Nasrani yang
sudah mengenal Bible dan sudah pula menterjemahkannya sebagian ke dalam bahasa
Arab. Ia menceritakan apa yang pernah dilihat dan didengar Muhammad dan menceritakan
pula apa yang dikatakan Muhammad kepadanya. Waraqa memastikan bahwa Muhammad
Saw adalah Nabi umat ini. Setelah mendapat keterangan demikian, Khadijah
pulang.
Ssampai di rumah, dilihatnya Muhammad masih tidur.
Dipandangnya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap
dan cemas. Tiba-tiba Rasulullah Saw menggigil, napasnya terasa sesak dengan
keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, ketika itu malaikat
datang membawakan wahyu kepadanya:
“O orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan
peringatan. Dan agungkan Tuhanmu. Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan
perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan
demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.” (Qur’an 74: 17)
Khadijah menenteramkan hatinya, dan menceritakan apa
yang didengarnya dari Waraqa tadi. Khadijah kemudian menyatakan dirinya beriman
atas kenabiannya itu. Sesudah peristiwa itu, pada suatu hari Muhammad pergi
akan mengelilingi Ka’bah. Di tempat itu Waraqa b. Naufal menjumpainya. Sesudah
Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqa berkata: “Demi Dia Yang memegang hidup
Waraqa. Engkau adalah Nabi atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar
seperti yang pemah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan orang,
akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku
masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah dengan pembelaan yang
sudah diketahuiNya pula.”
Rasulullah Saw memikirkan, bagaimana akan mengajak
Quraisy supaya turut beriman; padahal ia tahu benar mereka sangat kuat
mempertahankan kebatilan itu. Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu.
Ditambah lagi mereka masih sekeluarga dan sanak famili yang dekat. Sungguhpun
begitu, tetapi mereka dalam kesesatan.
Ia menantikan bimbingan wahyu dalam menghadapi
masalahnya itu, menantikan adanya penyuluh yang akan menerangi jalannya. Tetapi
ternyata, wahyu itu tidak turun. Malaikat Jibrilpun tidak datang lagi
kepadanya. Kembali ia merasa dalam ketakutan seperti sebelum turunnya wahyu. Ia
masih dalam ketakutan. Perasaan ini juga yang mendorongnya lagi akan pergi ke
bukit-bukit dan menyendiri lagi dalam gua Hira’. Ia ingin membubung tinggi
dengan seluruh jiwanya, menghadapkan diri kepada Tuhan, akan menanyakan: Kenapa
ia lalu ditinggalkan sesudah dipilihNya? Sementara ia sedang dalam kekuatiran
demikian itu – sesudah sekian lama terhenti – tiba-tiba datang wahyu membawa
firman Tuhan:
“Demi pagi cerah yang gemilang. Dan demi malam bila
senyap kelam. Tuhanmu tidak meninggalkan kau, juga tidak merasa benci. Dan
sungguh, hari kemudian itu lebih baik buat kau daripada yang sekarang. Dan akan
segera ada pemberian dari Tuhan kepadamu. Maka engkaupun akan bersenang hati.
Bukankah Ia mendapati kau seorang piatu, lalu diberiNya tempat berlindung? Dan
Ia mendapati kau tak tahu jalan, lalu diberiNya kau petunjuk? Karena itu,
terhadap anak piatu, jangan kau bersikap bengis. Dan tentang orang yang
meminta, jangan kau tolak. Dan tentang kurnia Tuhanmu, hendaklah kau
sebarkan.”(Qur’an, 93: 1-11)
Rasa cemas dan takut dalam diri Muhammad Saw hilang
setelah wahyu turun kembali. Ketika Allah Swt telah mengajarkan Nabi
bersembahyang, maka iapun bersembahyang, begitu juga Khadijah ikut pula
sembahyang. Selain puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali bin Abi
Talib sebagai anak muda yang belum balig. Lalu Rasulullah Saw mengajak sepupunya itu beribadat kepada Allah
semata tiada bersekutu serta menerima agama yang dibawa nabi utusanNya.
Ali adalah anak pertama yang menerima Islam. Kemudian
Zaid b. Haritha, bekas budak Nabi. Dengan demikian Islam masih terbatas hanya
dalam lingkungan keluarga Muhammad: dia sendiri, isterinya, kemenakannya dan
bekas budaknya. Masih juga ia berpikir-pikir, bagaimana akan mengajak kaum
Quraisy itu. Tahu benar ia, betapa kerasnya mereka itu dan betapa pula kuatnya
mereka berpegang pada berhala yang disembah-sembah nenek moyang mereka itu.
Pada waktu itu Abu Bakr b. Abi Quhafa dari kabilah Taim, teman akrab Muhammad,
adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan
penyembahan berhala. Abu Bakr tidak ragu-ragu lagi memenuhi ajakan Muhammad dan
beriman pula akan ajakannya itu.
Keimanannya kepada Allah dan kepada RasulNya itu
segera diumumkan oleh Abu Bakr di kalangan teman-temannya. Dari kalangan
masyarakatnya yang dipercayai oleh Abu Bakr diajaknya mereka kepada Islam.
Usman b. ‘Affan, Abdurrahman b. ‘Auf, Talha b. ‘Ubaidillah, Sa’d b. Abi Waqqash
dan Zubair bin’l-’Awwam mengikutinya pula menganut Islam. Kemudian menyusul
pula Abu ‘Ubaida bin’l-Djarrah, dan banyak lagi yang lain dari penduduk Mekah.
Mereka yang sudah Islam itu lalu datang kepada Nabi menyatakan Islamnya, yang
selanjutnya menerima ajaran-ajaran agama itu dari Nabi sendiri.
Mengetahui
adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu
yang melanggar paganisma, maka kaum Muslimin yang mula-mula masih
sembunyi-sembunyi. Apabila mereka akan melakukan salat, mereka pergi ke
celah-celah gunung di Mekah. Keadaan serupa ini berjalan selama tiga tahun,
sementara Islam tambah meluas juga di kalangan penduduk Mekah. Ajaran Muhammad
sudah tersebar di Mekah, orang sudah berbondong-bondong memasuki Islam, pria
dan wanita.
Syiar Secara Terang-Terangan
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah
Allah datang supaya ia mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan itu,
perintah Allah supaya disampaikan. Ketika itu wahyu datang:
“Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu
yang dekat. Limpahkanlah kasih-sayang kepada orang-orang beriman yang mengikut
kau. Kalaupun mereka tidak mau juga mengikuti kau, katakanlah, ‘Aku lepas
tangan dari segala perbuatan kamu.’” (Qur’an 26: 214-216) “Sampaikanlah apa
yang sudah diperintahkan kepadamu, dan tidak usah kauhiraukan orang-orang
musyrik itu.”(Qur’an 15: 94)
Muhammadpun mengundang makan keluarga-keluarga itu ke
rumahnya, dicobanya bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Allah.
Tetapi Abu Talib, pamannya, lalu menyetop pembicaraan itu. Ia mengajak
orang-orang pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya sekali lagi Muhammad
mengundang mereka. Selesai makan, katanya kepada mereka: “Saya tidak melihat
ada seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan sesuatu ke
tengah-tengah mereka lebih baik dari yang saya bawakan kepada kamu sekalian
ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan telah menyuruh
aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku dalam
hal ini?” Mereka semua menolak, dan sudah bersiap-siap akan meninggalkannya.
Tetapi tiba-tiba Ali bangkit – ketika itu ia masih anak-anak, belum lagi balig.
“Rasulullah, saya akan membantumu,” katanya. “Saya adalah lawan siapa saja yang
kautentang.” Banu Hasyim tersenyum, dan ada pula yang tertawa terbahak-bahak.
Kemudian mereka semua pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Sesudah itu Muhammad kemudian mengalihkan seruannya
dari keluarga-keluarganya yang dekat kepada seluruh penduduk Mekah. Suatu hari
ia naik ke Shafa2 dengan berseru: “Hai masyarakat Quraisy.” Tetapi orang
Quraisy itu lalu membalas: “Muhammad bicara dari atas Shafa.” Mereka lalu
datang berduyun-duyun sambil bertanya-tanya, “Ada apa?” “Bagaimana pendapatmu
sekalian kalau kuberitahukan kamu, bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan
berkuda. Percayakah kamu?” “Ya,” jawab mereka. “Engkau tidak pernah
disangsikan. Belum pernah kami melihat engkau berdusta.” “Aku mengingatkan kamu
sekalian, sebelum menghadapi siksa yang sungguh berat,” katanya, “Banu
Abd’l-Muttalib, Banu Abd Manaf, Banu Zuhra, Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu
Asad Allah memerintahkan aku memberi peringatan kepada keluarga-keluargaku
terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian
atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada kamu, selain kamu ucapkan: Tak ada
tuhan selain Allah.” Tetapi kemudian Abu
Lahab berdiri sambil meneriakkan: “Celaka kau hari ini. Untuk ini kau kumpulkan
kami?” Muhammad tak dapat bicara. Dilihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian
sesudah itu datang wahyu membawa firman Tuhan: “
Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia.
Tak ada gunanya kekayaan dan usahanya itu. Api yang menjilat-jilat akan
menggulungnya” (Qur’an 102:1-8)
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan
Quraisy yang lain tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan
penduduk Mekah itu. Setiap hari niscaya akan ada saja orang yang Islam –
menyerahkan diri kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang tidak terpesona oleh
pengaruh dunia perdagangan untuk sekedar melepaskan renungan akan apa yang
telah diserukan kepada mereka. Akan tetapi bagi Abu Lahab, Abu Sufyan dan bangsawan-bangsawan
Quraisy terkemuka lainnya, hartawan-hartawan yang gemar bersenang-senang, mulai
merasakan, bahwa ajaran Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan
mereka. Jadi yang mula-mula harus mereka lakukan ialah menyerangnya dengan cara
mendiskreditkannya, dan mendustakan segala apa yang dinamakannya kenabian itu.
Langkah pertama yang mereka lakukan dalam hal ini
ialah membujuk penyair-penyair mereka: Abu Sufyan bin’l-Harith, ‘Amr bin’l-’Ash
dan Abdullah ibn’z-Ziba’ra, supaya mengejek dan menyerangnya. Dalam pada itu
penyair-penyair Muslimin juga tampil membalas serangan mereka tanpa Muhammad
sendiri yang harus melayani.
Sementara itu, selain penyair-penyair itu beberapa
orang tampil pula meminta kepada Muhammad beberapa mujizat yang akan dapat membuktikan
kerasulannya: mujizat-mujizat seperti pada Musa dan Isa. Kenapa bukit-bukit
Shafa dan Marwa itu tidak disulapnya menjadi emas, dan kitab yang
dibicarakannya itu dalam bentuk tertulis diturunkan dari langit? Dan kenapa
Jibril yang banyak dibicarakan oleh Muhammad itu tidak muncul di hadapan
mereka? Kenapa dia tidak menghidupkan orang-orang yang sudah mati, menghalau
bukit-bukit yang selama ini membuat Mekah terkurung karenanya? Kenapa ia tidak
memancarkan mata air yang lebih sedap dari air sumur Zamzam, padahal ia tahu
betapa besar hajat penduduk negerinya itu akan air?
Tidak hanya sampai disitu saja kaum musyrikin itu mau
mengejeknya dalam soal-soal mujizat, malahan ejekan mereka makin menjadi-jadi,
dengan menanyakan: kenapa Tuhannya itu tidak memberikan wahyu tentang harga
barang-barang dagangan supaya mereka dapat mengadakan spekulasi buat hari
depan? Debat mereka itu berkepanjangan. Tetapi wahyu yang datang kepada
Muhammad menjawab debat mereka
“Katakanlah: ‘Aku tak berkuasa membawa kebaikan atau
menolak bahaya untuk diriku sendiri, kalau tidak dengan kehendak Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang gaib-gaib, niscaya kuperbanyak amal kebaikan itu
dan bahayapun tidak menyentuhku. Tapi aku hanya memberi peringatan dan membawa
berita gembira bagi mereka yang beriman.” (Qur’an 7: 188)
Perlindungan Abu Talib
Abu Talib pamannya belum lagi menganut Islam. Tetapi
tetap ia sebagai pelindung dan penjaga kemenakannya itu. Ia sudah menyatakan
kesediaannya akan membelanya. Atas dasar itu pemuka-pemuka bangsawan Quraisy –
dengan diketahui oleh Abu Sufyan b. Harb – pergi menemui Abu Talib. “Abu
Talib,” kata mereka, “kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita,
mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat
nenek-moyang kita. Soalnya sekarang, harus kauhentikan dia; kalau tidak biarlah
kami sendiri yang akan menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami
tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi dia.” Akan
tetapi Abu Talib menjawab mereka dengan baik sekali.
Perlindungan Banu Hasyim dan Banu Muttalib
Sementara itu Muhammad juga tetap gigih menjalankan
tugas dakwahnya dan dakwa itupun mendapat pengikut bertambah banyak. Quraisy
segera berkomplot menghadapi Muhammad itu. Sekali lagi mereka pergi menemui Abu
Talib. Sekali ini disertai ‘Umara bin’l-Walid bin’l-Mughira, seorang pemuda
yang montok dan rupawan, yang akan diberikan kepadanya sebagai anak angkat, dan
sebagai gantinya supaya Muhammad diserahkan kepada mereka. Tetapi inipun
ditolak. Muhammad terus juga berdakwah, dan Quraisypun terus juga berkomplot.
Untuk ketiga kalinya mereka mendatangi lagi Abu Talib. “Abu Talib’” kata
mereka, “Engkau sebagai orang yang terhormat, terpandang di kalangan kami. Kami
telah minta supaya menghentikan kemenakanmu itu, tapi tidak juga kaulakukan.
Kami tidak akan tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek-moyang kita,
tidak menghargai harapan-harapan kita dan mencela berhala-berhala kita –
sebelum kausuruh dia diam atau sama-sama kita lawan dia hingga salah satu pihak
nanti binasa.”
Berat sekali bagi Abu Talib akan berpisah atau
bermusuhan dengan masyarakatnya. Juga tak sampai hati ia menyerahkan atau
membuat kemenakannya itu kecewa. Dimintanya Muhammad datang dan diceritakannya
maksud seruan Quraisy. Lalu katanya: “Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan
aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.” Pamannya ini seolah sudah tak
berdaya lagi membela dan memeliharanya. Sedang kaum Muslimin masih lemah,
mereka tak berdaya akan berperang, tidak dapat mereka melawan Quraisy yang
punya kekuasaan, punya harta, punya persiapan dan jumlah rmanusia. Sebaliknya
dia tidak punya apa-apa selain kebenaran. Tetapi jiwa Rasulullah Saw tetap
teguh, ia berkata kepada pamannya:
“Paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan
kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku
meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang
akan membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya.”
Gemetar orang tua ini mendengar jawaban Muhammad Saw.
Seketika lamanya Abu Talib masih dalam keadaan terpesona. Kemudian dimintanya
Muhammad datang lagi, yang lalu katanya: “Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku
tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!” Sikap dan kata-kata
kemenakannya itu oleh Abu Talib disampaikan kepada Banu Hasyim dan Banu
al-Muttalib. Pembicaranya tentang Muhammad itu terpengaruh oleh suasana yang
dilihat dan dirasakannya ketika itu. Dimintanya supaya Muhammad dilindungi dari
tindakan Quraisy. Mereka semua menerima usul ini, kecuali Abu Lahab.
Sikap permusuhan Quraisy terhadap kaum muslimin pun
semakin menjadi-jadi. Setiap kabilah itu langsung menyerbu kaum Muslimin yang
ada di kalangan mereka: disiksa dan dipaksa melepaskan agamanya. Dikisahkan
seorang budak yang telah muslim, Bilal, disiksa ke atas pasir di bawah terik
matahari yang membakar, dadanya ditindih dengan batu dan akan dibiarkan mati.
Dalam kekerasan semacam itu Bilal hanya berkata: “Ahad, Ahad, Hanya Yang
Tunggal!” Ia memikul semua siksaan itu demi agamanya. Hingga suatu hari Abu
Bakr melihat Bilal mengalami siksaan begitu rupa, ia dibelinya lalu dibebaskan.
Tidak sedikit budak-budak yang mengalami kekerasan
serupa itu oleh Abu Bakr dibeli – diantaranya budak perempuan Umar bin’l-Khattab,
dibelinya dari Umar [sebelum masuk Islam]. Ada pula seorang wanita yang disiksa
sampai mati karena ia tidak mau meninggalkan Islam kembali kepada kepercayaan
leluhurnya. Kaum Muslimin di luar budak-budak itu, dipukuli dan dihina dengan
berbagai cara. Muhammad juga tidak terkecuali mengalami gangguan-gangguan –
meskipun sudah dilindungi oleh Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib. Umm Jamil,
isteri Abu Jahl, melemparkan najis ke depan rumahnya. Tetapi cukup Muhammad
hanya membuangnya saja. Dan pada waktu sembayang, Abu Jahl melemparinya dengan
isi perut kambing yang sudah disembelih untuk sesajen kepada berhala-berhala.
Ditanggungnya gangguan demikian itu dan ia pergi kepada Fatimah, puterinya,
supaya mencucikan dan membersihkannya kembali.
Di samping semua itu, kaum Muslimin harus menerima
kata-kata biadab dan keji kemana saja mereka pergi. Cukup lama hal serupa itu
berjalan. Penyair-penyair memakinya, orang-orang Quraisy berkomplot hendak
membunuhnya di Ka’bah. Rumahnya dilempari batu, keluarga dan pengikut-pengikutnya
diancam. Perioda yang telah dilalui dalam hidup Muhammad Saw ini adalah perioda
yang paling dahsyat yang pernah dialami oleh sejarah umat manusia.
Islamnya Hamzah ra
Islamnya Hamzah ra terjadi kira-kira pada tahun ke
enam kerasulan beliau. Pada suatu hari Abu Jahl bertemu dengan Muhammad, ia
mengganggunya, memaki-makinya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas
dialamatkan kepada agama ini. Tetapi Muhammad tidak melayaninya. Hamzah,
pamannya dan saudaranya sesusu, yang masih berpegang pada kepercayaan Quraisy,
adalah seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Ketika itu ia baru kembali
dari berburu, dan terlebih dulu mengelilingi Ka’bah sebelum langsung pulang ke
rumahnya.Ketika ia mengetahui bahwa kemenakannya itu mendapat gangguan Abu Jahl,
ia meluap marah. Ia pergi ke Ka’bah, tidak lagi ia memberi salam kepada yang
hadir di tempat itu seperti biasanya, melainkan terus masuk kedalam mesjid
menemui Abu Jahl. Setelah dijumpainya, diangkatnya busurnya lalu dipukulkannya
keras-keras di kepalanya. Beberapa orang dan Banu Makhzum mencoba mau membela
Abu Jahl. Tapi tidak jadi. Kuatir mereka akan timbul bencana dan membahayakan
sekali, dengan mengakui bahwa ia memang mencaci maki Muhammad dengan tidak
semena-mena. Sesudah itulah kemudian Hamzah menyatakan masuk Islam. Ia berjanji
kepada Muhammad akan membelanya dan akan berkurban di jalan Allah sampai akhir
hayatnya.
Pihak Quraisy merasa sesak dada melihat Muhammad dan
kawan-kawannya makin hari makin kuat. Terpikir oleh Quraisy akan membebaskan diri
dari Muhammad, dengan cara seperti yang mereka bayangkan, memberikan segala
keinginannya. Utba b. Rabi’a, seorang bangsawan Arab terkemuka, mencoba
membujuk Quraisy ketika mereka dalam tempat pertemuan dengan mengatakan bahwa
ia akan bicara dengan Muhammad dan akan menawarkan kepadanya hal-hal yang
barangkali mau menerimanya. Mereka mau memberikan apa saja kehendaknya, asal ia
dapat dibungkam.
Ketika itulah ‘Utba bicara dengan Muhammad. “Anakku,”
katanya, “seperti kau ketahui, dari segi keturunan, engkau mempunyai tempat di
kalangan kami. Engkau telah membawa soal besar ketengah-tengah masyarakatmu,
sehingga mereka cerai-berai karenanya. Sekarang, dengarkanlah, kami akan
menawarkan beberapa masalah, kalau-kalau sebagian dapat kauterima Kalau dalam
hal ini yang kauinginkan adalah harta, kamipun siap mengumpulkan harta kami,
sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau kau
menghendaki pangkat, kami angkat engkau diatas kami semua; kami takkan
memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau kedudukan raja yang
kauinginkan, kami nobatkan kau sebagai raja kami. Jika engkau dihinggapi
penyakit saraf yang tak dapat kautolak sendiri, akan kami usahakan
pengobatannya dengan harta-benda kami sampai kau sembuh.”
Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda
(41 = Ha Mim). ‘Utba diam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu.
Dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah seorang laki-laki
yang didorong oleh ambisi harta, ingin kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang
yang sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang
kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik, dengan
kata-kata penuh mujizat.
Selesai Muhammad membacakan itu ‘Utba pergi kembali
kepada Quraisy. Apa yang dilihat dan didengarnya itu sangat mempesonakan
dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangat menarik
sekali. Persoalannya ‘Utba ini tidak menyenangkan pihak Quraisy, juga
pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak menggembirakan mereka,
sebaliknya kalau mengikutinya, maka kebanggaannya buat mereka. Maka kembali
lagilah mereka memusuhi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dengan menimpakan
bermacam-macam bencana, yang selama ini dalam kedudukannya itu ia berada dalam
perlindungan golongannya dan dalam penjagaan Abu Talib, Banu Hasyim dan Banu
al-Muttalib.
Hijrahnya Muslimin ke Abisinia
Gangguan terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi,
sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Waktu itu Muhammad
menyarankan supaya mereka terpencar-pencar. Rasulullah Saw menyarankan supaya
mereka pergi ke Abisinia (Ethiopia) yang rakyatnya menganut agama Kristen.
“Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu
bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” Sebagian kaum
Muslimin ketika itu lalu berangkat ke Abisinia guna menghindari fitnah dan
tetap berlindung kepada Tuhan dengan mempertahankan agama.
Kaum Quraisy tahu akan hal ini, kemudian mengutus dua
orang menemui Najasyi. Mereka membawa hadiah-hadiah berharga guna meyakinkan
raja supaya dapat mengembalikan kaum Muslimin itu ke tanah air mereka. Kedua
orang utusan itu ialah ‘Amr bin’l-’Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’a. Sebenarnya
kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan dengan pembesar-pembesar istana
kerajaan, setelah mereka menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa
mereka akan membantu usaha mengembalikan kaum Muslimin itu kepada pihak
Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak sampai diketahui raja. Tetapi baginda
menolak sebelum mendengar sendiri keterangan dari pihak Muslimin. Lalu
dimintanya mereka itu datang menghadap “Agama apa ini yang sampai membuat
tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga
tuan-tuan menganut agamaku, atau agama lain?” tanya Najasyi setelah mereka
datang.
Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja’far b. Abi b.
Talib. Ia menjelaskan kepada Raja mengenai prinsip-prinsip islam. Ketika
diminta untuk membacakan ajaran islam, Ja’far membacakan Surah Mariam sampai
ayat 29-33. Setelah mendengar bahwa
keterangan itu membenarkan apa yang tersebut dalam Injil, pemuka-pemuka istana
itu terkejut. Kemudian mereka menolak untuk menyerahkan kaum muslimin.
Tetapi ‘Amr bin’l-’Ash tidak berputus asa. ‘Amr
bin’l-’Ash kembali menghadap Raja dengan mengatakan, bahwa kaum Muslimin
mengeluarkan tuduhan yang luarbiasa terhadap Isa anak Mariam. Maka dipanggillah
mereka dan ditanyakan apa yang mereka katakan itu. Ja’far menerangkan bahwa :
‘Dia adalah hamba Allah dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan
kepada Perawan Mariam.Setelah dari kedua belah pihak itu didengarnya,
ternyatalah oleh Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui Isa, mengenal adanya
Kristen dan menyembah Allah. Selama di Abisinia itu kaum Muslimin merasa aman
dan tenteram.
Mereka berangkat dengan melakukan dua kali hijrah.
Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria dan empat wanita. Dengan
sembunyi-sembunyi mereka keluar dari Mekah mencari perlindungan. Kemudian
mereka mendapat tempat yang baik di bawah Najasyi. Bilamana kemudian tersiar
berita bahwa kaum Muslimin di Mekah sudah selamat dari gangguan Quraisy,
merekapun lalu kembali pulang.
Tetapi setelah ternyata kemudian mereka mengalami
kekerasan lagi dari Quraisy melebihi yang sudah-sudah, kembali lagi mereka ke
Abisinia. Sekali ini terdiri dari delapanpuluh orang pria tanpa kaum isteri dan
anak-anak. Mereka tinggal di Abisinia sampai sesudah hijrah Nabi ke Yathrib.
Islamnya ‘Umar ibn’l-Khattab ra
Hal ini terjadi masih di tahun yang sama, tahun ke
enam. ‘Umar ibn’l-Khattab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia antara
tigapuluh dan tigapuluh lima tahun. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling
keras memusuhi kaum Muslimin. Tatkala itu Muhammad sedang berkumpul dengan
sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di
antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi Talib sepupunya, Abu Bakr b. Abi
Quhafa dan Muslimin yang lain. Pertemuan mereka ini diketahui ‘Umar. Iapun
pergi ketempat mereka, ia mau membunuh Muhammad.
Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim b. Abdullah.
Setelah mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata: “Umar, engkau menipu diri
sendiri. Kaukira keluarga ‘Abd Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini
sesudah engkau membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah dan
perbaiki keluargamu sendiri?!” Pada waktu itu Fatimah, saudaranya, beserta
Sa’id b. Zaid suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal
ini dari Nu’aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui mereka.
Di tempat itu ia mendengar ada orang membaca Qur’an.
Setelah mereka merasa ada orang yang sedang mendekati, orang yang membaca itu
sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya. “Aku mendengar suara bisik-bisik
apa itu?!” tanya Umar. Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan
suara lantang: “Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad dan
menganut agamanya!” katanya sambil menghantam Sa’id keras-keras. Fatimah, yang
berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami
isteri itu jadi panas hati. “Ya, kami sudah Islam! Sekarang lakukan apa saja,”
kata meteka.
Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah
di muka saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya.
Dimintanya kepada saudaranya supaya kitab yang mereka baca itu diberikan
kepadanya. Setelah dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Menggetar rasanya ia
setelah membaca isi kitab itu. Ia langsung menuju ke tempat Muhammad dan
sahabat-sahabatnya itu sedang berkumpul di Shafa. Ia minta ijin akan masuk, lalu
menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka
kaum Muslimin telah mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat. Ia masuk
Islam tidak sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di depan orang
banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka. Islamnya Umar ra ini telah memperkuat
kedudukan kaum Muslimin.
Pemboikotan dan Propaganda
Dengan Islamnya Umar ra ini, Quraisy lalu membuat
rencana lagi mengatur langkah berikutnya. Mereka sepakat bahkan secara tertulis
untuk memboikot total terhadap Banu Hasyim dan Banu Abd’l-Muttalib: untuk tidak
saling kawin-mengawinkan, tidak saling berjual-beli apapun. Piagam persetujuan
ini kemudian digantungkan di dalam Ka’bah sebagai suatu pengukuhan dan
registrasi bagi Ka’bah. Akan tetapi ternyata Muhammad sendiri malah makin teguh
berpegang pada tuntunan Allah, juga keluarganya, dan mereka yang sudah
berimanpun makin gigih mempertahankannya. Menyebarkan seruan Islam sampai
keluar perbatasan Mekah itu pun tak dapat pula dihalang-halangi. Maka
tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah masyarakat Arab dan kabilah-kabilah,
sehingga membuat agama yang baru ini, yang tadinya hanya terkurung
ditengah-tengah lingkaran gunung-gunung Mekah, kini berkumandang gemanya ke
seluruh jazirah.
Mereka, kaum Quraisy itu, juga menyusun suatu alat
propaganda anti Muhammad. Lebih gigih lagi mereka memikirkan hal ini sesudah
orang-orang yang berziarah itu diajak juga oleh Rasul Saw supaya beribadat
hanya kepada Allah yang Esa. Beberapa orang dari kalangan Quraisy berunding dan
mengadakan pertemuan di rumah Walid bin’l-Mughira. Walid mengusulkan supaya
kepada peziarah-peziarah orang-orang Arab itu dikatakan bahwa dia (Muhammad)
seorang juru penerang yang mempesonakan, apa yang dikatakannya merupakan pesona
yang akan memecah-belah orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan
isteri dan keluarganya. Dan apa yang dituduhkan itu pada orang-orang Arab
pendatang itu merupakan bukti, sebab penduduk Mekah sudah ditimpa perpecahan
dan permusuhan.
Di samping propaganda itu Quraisy harus punya
propaganda lain lagi. Untuk propaganda itu Quraisy akan mengandalkan pada Nadzr
b. Harith. Orang ini pernah pergi ke Hira dan mempelajari cerita raja-raja
Persia, peraturan-peraturan agamanya, ajaran-ajarannya tentang kebaikan dan
kejahatan serta tentang asal-usul alam semesta. Setiap dalam suatu pertemuan
Muhammad mengajak orang kepada Allah, ia lalu datang menggantikan tempat
Muhammad dalam pertemuan itu. Maka berceritalah ia kepada Quraisy tentang
sejarah dan agamanya, lalu katanya: Dengan cara apa Muhammad membawakan
ceritanya lebih baik daripada aku? Bukankah Muhammad membacakan cerita-cerita
orang dahulu seperti yang kubacakan juga? Orang-orang Quraisy menuduh, bahwa
sebagian besar apa yang dibawa Muhammad berasal dari seorang budak Nasrani yang
bernama Jabr. Untuk itulah datang Firman Tuhan:
“Kami sungguh
mengetahui bahwa mereka berkata; yang mengajarkan itu adalah seorang manusia.
Bahasa orang yang mereka tuduhkan itu bahasa asing, sedang ini adalah bahasa
Arab yang jelas sekali.” (Qur’an: 16: 103)
SELAMA tiga tahun berturut-turut piagam yang dibuat
pihak Quraisy untuk memboikot Muhammad dan mengepung Muslimin itu tetap
berlaku. Dalam pada itu Muhammad dan keluarga serta sahabat-sahabatnya sudah
mengungsi ke celah-celah gunung di luar kota Mekah, dengan mengalami pelbagai
macam penderitaan, sehingga untuk mendapatkan bahan makanan sekadar menahan
rasa laparpun tidak ada. Baik kepada Muhammad atau kaum Muslimin tidak
diberikan kesempatan bergaul dan bercakap-cakap dengan orang, kecuali dalam
bulan-bulan suci.
Pada bulan-bulan suci itu orang-orang Arab berdatangan
ke Mekah berziarah, segala permusuhan dihentikan – tak ada pembunuhan, tak ada
penganiayaan, tak ada permusuhan, tak ada balas dendam. Pada bulan-bulan itu
Muhammad turun, mengajak orang-orang Arab itu kepada agama Allah,
diberitahukannya kepada mereka arti pahala dan arti siksa. Segala penderitaan
yang dialami Muhammad demi dakwah itu justru telah menjadi penolongnya dari
kalangan orang banyak. Mereka yang telah mendengar tentang itu lebih bersimpati
kepadanya, lebih suka mereka menerima ajakannya. Blokade yang dilakukan Quraisy
kepadanya, kesabaran dan ketabahan hatinya memikul semua itu demi risalahnya,
telah dapat memikat hati orang banyak.
Gagalnya Pemboikotan
Akan tetapi, penderitaan yang begitu lama, begitu
banyak dialami kaum Muslimin karena kekerasan pihak Quraisy – padahal mereka
masih sekeluarga: saudara, ipar. sepupu – banyak diantara mereka itu yang
merasakan betapa beratnya kekerasan dan kekejaman yang mereka lakukan itu. Dan
sekiranya tidak ada dari penduduk yang merasa simpati kepada kaum Muslimin,
membawakan makanan ke celah-celah gunung1 tempat mereka mengungsi itu, niscaya
mereka akan mati kelaparan. Hisyam ibn ‘Amr adalah salah orang yang termasuk
paling simpati kepada Muslimin. Tengah malam ia datang membawa unta yang sudah
dimuati makanan atau gandum. Bilamana ia sudah sampai di depan celah gunung itu,
dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat mereka
dalam celah itu.
Merasa kesal melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya
dianiaya demikian rupa, ia mengajak beberapa orang untuk membatalkan piagam
pemboikotan itu. Demikianlah piagam itu batal dengan sendirinya, walaupun
beberapa tokoh Quraisy seperti Abu Jahl menentangnya. Beberapa penulis biografi
dalam hal ini berpendapat, bahwa diantara mereka yang bertindak menghapuskan
piagam itu terdapat orang-orang yang masih menyembah berhala. Sesudah piagam
disobek, Muhammad dan pengikut-pengikutnyapun keluar dari lembah bukit-bukit
itu. Seruannya dikumandangkan lagi kepada penduduk Mekah dan kepada
kabilah-kabilah yang pada bulan-bulan suci itu datang berziarah ke Mekah.
Meskipun ajakan Muhammad sudah tersiar kepada seluruh kabilah Arab di samping
banyaknya mereka yang sudah menjadi pengikutnya, tapi sahabat-sahabat itu tidak
selamat dari siksaan Quraisy, juga dia tidak dapat mencegahnya.
Meninggalnya Abu Talib dan Khadijah ra
Pada tahun ke sepuluh kerasulan Nabi Saw, yaitu
beberapa bulan kemudian sesudah penghapusan piagam itu, secara tiba-tiba sekali
dalam satu tahun saja Muhammad mengalami dukacita yang sangat menekan perasaan,
yakni kematian Abu Talib dan Khadijah secara berturut-turut. Waktu itu Abu
Talib sudah berusia delapanpuluh tahun lebih. Ketika Abu Talib meninggal
hubungan Muhammad dengan pihak Quraisy lebih buruk lagi dari yang sudah-sudah.
Dan sesudah Abu Talib, disusul pula dengan kematian Khadijah, Khadijah yang
menjadi sandaran Muhammad, Khadijah yang telah mencurahkan segala rasa cinta
dan kesetiaannya, dengan perasaan yang lemah-lembut, dengan hati yang bersih,
dengan kekuatan iman yang ada padanya. Khadijah, yang dulu menghiburnya bila ia
mendapat kesedihan, mendapat tekanan dan yang menghilangkan rasa takut dalam
hatinya. Ia adalah bidadari yang penuh kasih sayang. Pada kedua mata dan
bibirnya Muhammad melihat arti yang penuh percaya kepadanya, sehingga ia
sendiripun tambah percaya kepada dirinya.
Sesudah kehilangan dua orang yang selalu membelanya
itu Muhammad melihat Quraisy makin keras mengganggunya. Yang paling ringan
diantaranya ialah ketika seorang pandir Quraisy mencegatnya di tengah jalan
lalu menyiramkan tanah ke atas kepalanya. Tahukah orang apa yang dilakukan
Muhammad? Ia pulang ke rumah dengan tanah yang masih diatas kepala. Fatimah
puterinya lalu datang mencucikan tanah yang di kepala itu. Ia membersihkannya
sambil menangis. Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah dari
pada mendengar tangis anaknya, lebih-lebih anak perempuan.
Ta’if
Terasing seorang diri, ia pergi ke Ta’if, dengan tiada
orang yang mengetahuinya. Ia pergi ingin mendapatkan dukungan dan suaka dari
Thaqif terhadap masyarakatnya sendiri, dengan harapan merekapun akan dapat
menerima Islam. Tetapi ternyata mereka juga menolaknya secara kejam sekali.
Kalaupun sudah begitu, ia masih mengharapkan mereka jangan memberitahukan
kedatangannya minta pertolongan itu, supaya jangan ia disoraki oleh
masyarakatnya sendiri. Tetapi permintaannya itupun tidak didengar. Bahkan
mereka menghasut orang-orang pandir agar bersorak-sorai dan memakinya. Ia pergi
lagi dari sana, berlindung pada sebuah kebun kepunyaan ‘Utba dan Syaiba
anak-anak Rabi’a. Ketika itu keluarga Rabi’a sedang memperhatikannya dan melihat
pula kemalangan yang dideritanya.
Mereka merasa iba dan kasihan melihat nasib buruk yang
dialaminya itu. Budak mereka, seorang beragama Nasrani bernama ‘Addas, diutus
kepadanya membawakan buah anggur dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di
atas buah-buahan itu Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu buah itu dimakannya.
‘Addas memandangnya keheranan. Kemudian Nabi Saw menerangkan itu adalah ajaran
islam. Saat itu ‘Addas lalu membungkuk mencium kepala, tangan dan kaki
Muhammad.
Peristiwa Nabi Saw ke Ta’if itu kemudian diketahui pula oleh Quraisy
sehingga gangguan mereka kepada Muhammad makin menjadi-jadi. Tetapi hal ini
tidak mengurangi kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada
kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia memperkenalkan diri, mengajak
mereka mengenal arti kebenaran. Muhammad Saw sendiri tidak cukup hanya
memperkenalkan diri kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Mekah
saja, bahkan ia mendatangi kabilah-kabilah dan rumah-rumah mereka. Tapi tak
seorangpun dari mereka yang mau mendengarkan.
Isra’ Mi’raj
Pada tahun yang sama, tahun ke sepuluh kerasulan Nabi
saw, pada masa itulah Isra’ dan Mi’raj terjadi. Malam itu Muhammad sedang
berada di rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu Talib yang mendapat nama
panggilan Umm Hani’. Pada tengah malam yang sunyi dan hening, datanglah
Malaikat Jibril menemui Nabi untuk berisra’ dari Masjidil Haram Mekah ke
Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi Saw berisra’ dengan
mengendarai seekor hewan ajaib, yaitu buraq. Dalam perjalanan itu ia ditemani
oleh malaikat. Lalu berhenti di gunung Sinai di tempat Nabi Musa menerima wahyu
dari Allah Swt. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa dilahirkan.
Seterusnya mereka sampai ke Bait’l-Maqdis. Do tempat ini Nabi Saw sudah ditunggu
oleh nabi-nabi, antara lain Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi sulaiman sa,
dan Nabi Isa as. Mereka bersembahyang
bersama-sama dengan Rasulullah Saw sebagai imam. Setelah sambutan-sambutan oleh
mereka dan diakhiri oleh Rasulullah Saw, kemudian dibawakan tangga yang disebut
Sulam Jannah, yang dipancangkan diatas batu Ya’qub.
Dengan tangga
itu Muhammad naik ke langit bersama-sama dengan malaikat Jibril. Langit pertama
terbuat dari perak murni dengan bintang-bintang yang digantungkan dengan
rantai-rantai emas. Tiap langit itu dijaga oleh malaikat, supaya jangan ada
setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan mendengarkan
rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad memberi hormat kepada Adam.
Di tempat ini pula semua makhluk memuja dan memuji Tuhan.
Pada langit kedua Muhammad Saw bertemu dengan Nabi
Yahya as dan Nabi Isa as. Kemudian di langit ke tiga bertemu dengan Nabi Yusuf
as. Di langit ke empat bertemu dengan Nabi Idris as. Dilangit ke lima bertemu
dengan Nabi Harun as. Di langit ke enam Rasulullah Saw bertemu dengan Nabi Musa
as. Di sini Nabi Musa as berpesan agar Nabi Saw singgah sebentar pada
perjalanan pulang nanti. Kemudian Nabi Saw naik lagi ke langit ke tujuh. Di
sini Rasulullah Saw berjumpa dengan Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as
menasehatkan agar umat Muhammad Saw banyak-banyak membaca “Lahaula wala quata
illaa billahil’aliyil’adziim” sebagai tanaman surga.
Kemudian Rasulullah naik lagi bersama-sama malaikat
Jibril ke Sidratul Muntaha. Selanjutnya malaikat Jibril mengajak Rasul Saw
untuk menyaksikan surga dan juga neraka. Setelah itu Nabi Saw naik ke tingkat
yang lebih tinggi lagi tanpa malaikat Jibril. Jibril menyatakan bahwa ia tidak
sanggup untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Kemudian sampailah Rasulullah Saw
ke tingkat yang dinamakan ‘Arasy. Beliau berjumpa dengan Allah Swt dan menerima
perintah sholat sebanyak 50 kali setiap hari bagi umatnya.
Kemudian Muhammad Saw kembali turun dari langit, ia
singgah di tempat Nabi Musa as sesuai pesan sebelumnya. Nabi Musa as
menyarankan agar Rasulullah Saw meminta keringanan karena dianggapnya perintah
itu terlalu berat bagi umat Rasul Saw. Demikianlah, Rasul Saw sampai
berkali-kali menghadap Allah Swt untuk meminta keringanan atas usul Nabi Musa
as, hingga berakhir dengan ketentuan yang lima kali. Setelah selesai Mi’raj,
Nabi Saw kembali ke bumi dengan tangga Sulam Jannah. Setelah itu beliau pulang
ke Mekah dengan Buraq.
ORANG-ORANG Quraisy tidak dapat memahami arti isra’,
juga mereka yang sudah Islam banyak yang tidak memahami artinya seperti sudah
disebutkan tadi. Itu sebabnya, ada kelompok yang lalu meninggalkan Muhammad
yang tadinya sudah sekian lama menjadi pengikutnya.
Setelah Isra’ Mi’raj itu Rasulullah masih tetap
tinggal di Mekah beberapa tahun, walaupun Quraisy tambah keras menentangnya.
Apabila musim ziarah sudah tiba, orang-orang dari segenap jazirah Arab sudah
berkumpul lagi di Mekah, iapun mulai menemui kabilah-kabilah itu. Diajaknya
mereka memahami kebenaran agama yang dibawanya itu.
Ikrar ‘Aqaba
Pertama
Sementara itu, ada dua kabilah di Yathrib, Aus dan
Khazraj, yang saling bermusuhan. Di sana terdapat juga orang-orang Yahudi.
Hubungan tetangga dan hubungan dagang Yahudi
membuat Arab -Aus dan Khazraj -lebih banyak mengetahui cerita-cerita
kerohanian dan masalah-masalah agama lainnya di banding dengan golongan Arab
yang lain. Dengan demikian penduduk Yathrib ini relatif lebih mudah menerima
dakwah Rasul Saw.
Pada waktu itu telah terjadi pertempuran sengit antara
Aus dan Khazraj. Baik yang menang maupun yang kalah dari kalangan Aus dan
Khazraj sama-sama berpendapat tentang akibat buruk yang telah mereka lakukan
itu, karena sejak itu orang-orang Yahudi dapat mengembalikan kedudukannya di
Yathrib. Ketika itu musim ziarah tiba setelah isra’ mi’raj Nabi Saw, beberapa
orang dari Yathrib pergi ke Mekah . Setelah Nabi bicara dengan mereka dan
diajaknya mereka bertauhid kepada Allah, mereka menyambut dengan baik dan
menyatakan diri masuk Islam. Orang-orang itu lalu kembali ke Medinah. Dua orang
diantara mereka itu dari Banu’n-Najjar, keluarga Abd’l-Muttalib dari pihak ibu
Ternyata merekapun menyambut pula dengan senang hati agama ini.
Tiba tahun berikutnya, bulan-bulan sucipun datang lagi
bersama datangnya musim ziarah ke Mekah, dan ke tempat itu datang pula duabelas
orang penduduk Yathrib. Mereka ini bertemu dengan Nabi di ‘Aqaba. Di tempat
inilah mereka menyatakan ikrar atau berjanji kepada Nabi (yang kemudian dikenal
dengan nama) Ikrar ‘Aqaba pertama. Mereka berikrar kepadanya untuk tidak
menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak,
tidak mengumpat dan memfitnah. Jangan menolak berbuat kebaikan. Barangsiapa
mematuhi semua itu ia mendapat pahala surga, dan kalau ada yang mengecoh, maka
soalnya kembali kepada Tuhan. Tuhan berkuasa menyiksa, juga berkuasa mengampuni
segala dosa. Kemudian Muhammad Saw
menugaskan kepada Mush’ab bin ‘Umair supaya mengajarkan Islam serta seluk-beluk
hukum agama. Setelah adanya ikrar ini Islam makin tersebar di Yathrib. Mush’ab
bertugas memberikan pelajaran agama di kalangan Muslimin Aus dan Khazraj.
Ikrar ‘Aqaba Kedua
Pada musim haji tahun berikutnya mereka datang lagi ke
Mekah dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada Tuhan yang sudah lebih
kuat. Tahun itu – 622 M – jemaah haji dari Yathrib praktis jumlahnya banyak
sekali, terdiri dari tujuhpuluh lima orang, tujuhpuluh tiga pria dan dua
wanita. Rasulullah Saw mengusulkan untuk mengadakan suatu ikrar, yang berupa
ikrar pakta persekutuan. Mereka kemudian berjanji untuk bertemu di ‘Aqaba pada
tengah malam pada hari-hari Tasyriq. Peristiwa ini oleh Muslimin Yathrib tetap
dirahasiakan dari kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka. Sesampai mereka
di gunung ‘Aqaba, mereka semua memanjati lereng-lereng gunung tersebut.
Rasulullah Saw bersama pamannya ‘Abbas b. Abd’l-Muttalib – yang pada waktu itu
masih menganut kepercayaan golongannya sendiri.
Inilah kata-kata ‘Abbas yang pertama kali bicara.
“Saudara-saudara dari Khazraj!” kata ‘Abbas. “Posisi Muhammad di tengah-tengah
kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kami dan mereka yang sepaham dengan
kami telah melindunginya dari gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah
orang yang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di
negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan tuan-tuan juga. Jadi kalau
memang tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan
kepadanya itu dan dapat melindunginya dari mereka yang menentangnya, maka
silakanlah tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, kalau tuan-tuan akan menyerahkan
dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat tuan-tuan, maka dari
sekarang lebih baik tinggalkan sajalah.”
Kemudian giliran Rasulullah Saw : “Saya minta ikrar
tuan-tuan akan membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak
tuan-tuan sendiri.” Di antara mereka adalah Al-Bara’ b. Ma’rur, yang tertua di
antara mereka. Ia segera mengulurkan tangan menyatakan ikrarnya seraya berkata:
“Rasulullah, kami sudah berikrar. Kami adalah orang peperangan dan ahli
bertempur yang sudah kami warisi dari leluhur kami.” Tetapi sebelum Al-Bara’
selesai bicara, Abu’l-Haitham ibn’t-Tayyihan, seorang di antara mereka menyela:
“Rasulullah, kami dengan orang-orang itu – yakni orang-orang Yahudi – terikat
oleh perjanjian, yang sudah akan kami putuskan. Tetapi apa jadinya kalau kami
lakukan ini lalu kelak Tuhan memberikan kemenangan kepada tuan, tuan akan
kembali kepada masyarakat tuan dan meninggalkan kami?” Muhammad tersenyum, dan
katanya: “Tidak, saya sehidup semati dengan tuan-tuan. Tuan-tuan adalah saya
dan saya adalah tuan-tuan. Saya akan memerangi siapa saja yang tuan-tuan
perangi, dan saya akan berdamai dengan siapa saja yang tuan-tuan ajak
berdamai.” Demikianlah, mereka lalu menyatakan ikrar kepadanya.
Keesokan harinya pagi-pagi baru mereka bangun. Akan
tetapi pagi itu juga Quraisy sudah mengetahui berita adanya ikrar itu. Mereka
terkejut sekali. Pagi itu pemuka-pemuka Quraisy mendatangi Khazraj di tempatnya
masing-masing. Ketika itu juga orang-orang musyrik dari kalangan Khazraj
bersumpah-sumpah bahwa hal semacam itu tidak ada sama sekali. Sedang Muslimin
malah diam saja setelah dilihatnya Quraisy lagaknya akan mempercayai keterangan
orang-orang yang seagama dengan mereka itu. Ketika Quraisy akhirnya mengetahui,
bahwa berita itu memang benar. Tetapi mereka sudah pulang ke Yathrib.
Hijrahnya Muslimin ke Yathrib
Setelah ikrar Aqaba ke dua itu, dimintanya
sahabat-sahabatnya supaya menyusul kaum Anshar ke Yathrib. Hanya saja dalam
meninggalkan Mekah hendaknya mereka terpencar-pencar, supaya jangan sampai
menimbulkan kepanikan pihak Quraisy terhadap mereka. Mulailah kaum Muslimin
melakukan hijrah secara sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil. Akan
tetapi hal itu rupanya sudah diketahui oleh pihak Quraisy. Mereka segera
bertindak, berusaha mengembalikan yang masih dapat dikembalikan itu ke Mekah
untuk kemudian dibujuk supaya kembali kepada kepercayaan mereka, kalau tidak
akan disiksa dan dianiaya. Sampai-sampai tindakan itu ialah dengan cara
memisahkan suami dari isteri; kalau si isteri dari pihak Quraisy ia tidak dibolehkan
pergi ikut suami. Yang tidak menurut, isterinya yang masih dapat mereka kurung,
dikurung. Akan tetapi mereka takkan dapat berbuat lebih dari itu. Mereka kuatir
akan pecah perang saudara antar-kabilah jika mereka mencoba membunuh salah
seorang dari kabilah itu. Berturut-turut kaum Muslimin hijrah ke Yathrib.
Sementara itu Muhammad Saw tetap tinggal.
Setelah banyak orang yang berhijrah, Quraisy
mengadakan pertemuan di Dar’n-Nadwa membahas semua persoalan itu serta
cara-cara pencegahannya. Mereka memutuskan, dari setiap kabilah akan diambil
seorang pemuda yang dipersenjatai dengan sebilah pedang yang tajam, yang secara
bersama-sama sekaligus mereka akan menghantamnya, dan darahnya dapat
dipencarkan antar-kabilah. Dengan demikian Banu ‘Abd Manaf takkan dapat
memerangi mereka semua. Mereka menyetujui pendapat ini dan merasa cukup puas.
Mereka mengadakan seleksi di kalangan pemuda-pemuda mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar