Rumah Tangga Rasulullah Saw
DENGAN duapuluh ekor unta muda sebagai mas kawin
Muhammad melangsungkan perkawinannya itu dengan Khadijah. Ia pindah ke rumah
Khadijah dalam memulai hidup barunya itu, hidup suami-isteri dan ibu-bapa,
saling mencintai cinta sebagai pemuda berumur duapuluh lima tahun. Ia tidak
mengenal nafsu muda yang tak terkendalikan, juga ia tidak mengenal cinta buta
yang dimulai seolah nyala api yang melonjak-lonjak untuk kemudian padam
kembali. Dari perkawinannya itu ia beroleh beberapa orang anak, laki-laki dan
perempuan. Kematian kedua anaknya, al-Qasim dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib
telah menimbulkan rasa duka yang dalam sekali. Anak-anak yang masih hidup semua
perempuan. Alangkah besarnya pengaruh yang terjalin dalam hidup kasih-sayang
antara dia dengan Khadijah sebagai isteri yang sungguh setia itu. Pergaulan
Muhammad dengan penduduk Mekah tidak terputus, juga partisipasinya dalam
kehidupan masyarakat hari-hari.
Selama itu Muhammad tetap bergaul dengan penduduk
Mekah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia menemukan dalam diri Khadijah
teladan wanita terbaik; wanita yang subur dan penuh kasih, menyerahkan seluruh
dirinya kepadanya, dan telah melahirkan anak-anak laki-laki: al-Qasim dan
Abdullah yang dijuluki at-Tahir dan at-Tayyib, serta puteri-puteri: Zainab,
Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatimah. Tentang al-Qasim dan Abdullah tidak banyak
yang diketahui, kecuali disebutkan bahwa mereka mati kecil pada zaman Jahiliah
dan tak ada meninggalkan sesuatu yang patut dicatat. Tetapi yang pasti kematian
itu meninggalkan bekas yang dalam pada orangtua mereka. Demikian juga pada diri
Khadijah terasa sangat memedihkan hatinya.
Kepada anak-anaknya yang perempuan juga Muhammad
memberikan perhatian. Setelah dewasa, Zainab yang sulung dikawinkan dengan
Abu’l-’Ash bin’r-Rabi’ b.’Abd Syams – ibunya masih bersaudara dengan Khadijah –
seorang pemuda yang dihargai masyarakat karena kejujuran dan suksesnya dalam
dunia perdagangan. Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah
datangnya Islam – ketika Zainab akan hijrah dan Mekah ke Medinah – mereka
terpisah. Ruqayya dan Umm Kulthum dikawinkan dengan ‘Utba dan ‘Utaiba anak-anak
Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri ini sesudah Islam terpisah dari suami mereka,
karena Abu Lahab menyuruh kedua anaknya itu menceraikan isteri mereka, yang
kemudian berturut-turut menjadi isteri Usman. Ketika itu Fatimah masih kecil
dan perkawinannya dengan Ali baru sesudah datangnya Islam.
Pembangunan Ka’bah
Ketika Muhammad Saw berusia tigapuluh lima tahun
menurut catatan Ibn Ishaq, pada waktu itu masyarakat sedang sibuk karena
bencana banjir besar yang turun dari gunung, pernah menimpa dan meretakkan
dinding-dinding Ka’bah yang memang sudah rapuk. Penduduk Mekah kemudian
membangun Ka’bah kembali. Sudut-sudut Ka’bah itu oleh Quraisy dibagi empat
bagian tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun
kembali. Mereka ramai-ramai merombaknya dan memindahkan batu-batu yang ada. Dan
Muhammad ikut pula membawa batu itu. Setelah mereka berusaha membongkar batu
hijau yang terdapat di situ dengan pacul tidak berhasil, dibiarkannya batu itu
sebagai fondasi bangunan. Dan gunung-gunung sekitar tempat itu sekarang
orang-orang Quraisy mulai mengangkuti batu-batu granit berwarna biru, dan
pembangunanpun segera dimulai. Sesudah bangunan itu setinggi orang berdiri dan
tiba saatnya meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di sudut
timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya
mendapat kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya.
Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga hampir
saja timbul perang saudara karenanya. Keadaan mereda setelah Abu Umayya
bin’l-Mughira dari Banu Makhzum, orang yang tertua di antara mereka, dihormati
dan dipatuhi, berkata kepada mereka: “Serahkanlah putusan kamu ini di tangan
orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini.” Tatkala mereka melihat
Muhammad adalah orang pertama memasuki tempat itu, mereka berseru: “Ini
al-Amin; kami dapat menerima keputusannya.” Lalu mereka menceritakan peristiwa
itu kepadanya. Iapun mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa
berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu katanya: “Kemarikan
sehelai kain,” katanya. Setelah kain dibawakan dihamparkannya dan diambilnya
batu itu lalu diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya;
“Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini.” Mereka bersama-sama
membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Muhammad
mengeluarkan batu itu dari kain dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian
perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan.
Ka’bah dibangun sampai setinggi delapanbelas hasta (±
11 meter), dan ditinggikan dari tanah sedemikian rupa, sehingga mereka dapat
menyuruh atau melarang orang masuk. Di dalam itu mereka membuat enam batang
tiang dalam dua deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang sebuah tangga
naik sampai ke teras di atas lalu meletakkan Hubal (berhala mereka) di dalam
Ka’bah. Juga di tempat itu diletakkan barang-barang berharga lainnya, yang
sebelum dibangun dan diberi beratap menjadi sasaran pencurian.
Wahyu Pertama
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu
bahwa golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri
dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka
dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan.
Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth.
Demikian juga halnya dengan Muhammad Saw. Ia mengasingkan diri guna mendalami
pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam dirinya. Ia mendapatkan ketenangan
dalam din-nya serta obat penawar hasrat hati yang ingin menyendiri, ingin
mencari jalan memenuhi kerinduannya yang selalu makin besar, ingin mencapai
ma’rifat serta mengetahui rahasia alam semesta. Di puncak Gunung Hira, –
sebelah utara Mekah -terletak sebuah gua yang baik sekali buat tempat
menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun ia pergi ke sana
dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Ia
tekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan
manusia.
Bilamana bulan Ramadan sudah berlalu dan ia kembali
kepada Khadijah, pengaruh pikiran yang masih membekas padanya membuat Khadijah
menanyakannya selalu, karena diapun ingin lega hatinya bila sudah diketahuinya
ia dalam keadaan baik-baik saja. Bila telah tiba pula bulan Ramadan tahun berikutnya,
ia pergi ke Hira’, sehingga sedikit demi sedikit ia bertambah matang,
jiwanyapun semakin penuh.
Ketika Nabiyullah Saw berusia empat puluh tahun,
tatkala ia berada dalam gua itu, datang malaikat membawa sehelai lembaran
seraya berkata kepadanya: “Bacalah!” Dengan terkejut Muhammad menjawab: “Saya
tak dapat membaca”. Ia merasa seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian
dilepaskan lagi seraya katanya lagi: “Bacalah!” Masih dalam ketakutan akan
dicekik lagi Muhammad menjawab: “Apa yang akan saya baca.” Seterusnya malaikat
itu berkata:
“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan.
Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah.
Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum
diketahuinya …” (Qur’an 96:1-5)
Lalu ia mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi,
setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Nabi Saw sendiri kemudian
ketakutan, sambil bertanya-tanya kepada dirinya: Gerangan apakah yang
dilihatnya?! Ataukah kesurupan yang ditakutinya itu kini telah menimpanya?! Ia
menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat apa-apa.
Kuatir akan apa yang terjadi dalam gua itu, ia lari
dari tempat itu. Semuanya serba membingungkan. Tak dapat ia menafsirkan apa
yang telah dilihatnya itu. Cepat-cepat ia pergi menyusuri celah-celah gunung,
sambil bertanya-tanya dalam hatinya: siapa gerangan yang menyuruhnya membaca
itu?! Ia memasuki pegunungan itu masih dalam ketakutan, masih bertanya-tanya.
Tiba-tiba ia mendengar ada suara memanggilnya. Dahsyat sekali terasa. Ia
melihat ke permukaan langit. Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam
bentuk manusia. Dialah yang memanggilnya. Ia makin ketakutan sehingga tertegun
ia di tempatnya. Ia memalingkan muka dari yang dilihatnya itu. Tetapi dia masih
juga melihatnya di seluruh ufuk langit. Sebentar melangkah maju ia, sebentar
mundur, tapi rupa malaikat yang sangat indah itu tidak juga lalu dari depannya.
Seketika lamanya ia dalam keadaan demikian.
Setelah rupa malaikat itu menghilang Muhammad pulang
sudah berisi wahyu yang disampaikan kepadanya. Jantungnya berdenyut, hatinya
berdebar-debar ketakutan. Sesampainya di rumah, dijumpainya Khadijah sambil ia
berkata: “Selimuti aku!” Ia segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti dalam
demam. Setelah rasa ketakutan itu berangsur reda dipandangnya isterinya dengan
pandangan mata ingin mendapat kekuatan. “Khadijah, kenapa aku?” katanya.
Kemudian diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa
kekuatirannya akan teperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti juru
nujum saja. Khadijah yang penuh rasa kasih-sayang, adalah tempat ia melimpahkan
rasa damai dan tenteram kedalam hati yang besar itu, hati yang sedang dalam
kekuatiran dan dalam gelisah. Khadijah berusaha untuk membesarkan menghibur
hati Muhammad Saw hingga ia merasa tenang kembali.
Kini wahyu pertama telah turun, perjuangan berat
menanti dalam kehidupan Rasul Saw selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar