"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu,
menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka
akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka
akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu
dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik dan
menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya diatas sebagian yang lain,
lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam.
Mereka itulah orang-orang yang merugi." (al-Anfaal: 36-37)
Menurut keterangan beberapa ahli tafsir,
ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Sufyan bin Harb radhiallâhu
'anhu.
Abu Sufyan bin Harb radhiallâhu 'anhu.
Abu
Sufyan bin Harb terkenal sebagai salah seorang tokoh Quraisy pada zaman
Jahiliah.
Dia
seorang saudagar terkenal, banyak mengenal keinginan pasar. Sebagai tokoh
masyarakat Quraisy, ia banyak mengetahui gaya hidup masyarakatnya. Ia juga
seperti yang dikatakan banyak orang, antara lain al-'Abbas bin Abdul
Muththalib, senang dipuji dan dibanggakan orang.
Ia
dilahirkan sepuluh tahun sebelum terjadinya penyerbuan tentara gajah ke Mekkah.
Ia sering memimpin kafilah perdagangan kaum Quraisy ke negeri Syam dan ke
negeri 'ajam (selain Arab) lainya. Ia suka keluar dengan membawa panji
para pemimpin yang dikenal dengan 'Al-'Uqab". Panji itu tidak dipegang
melainkan oleh pemimpin Quraisy. Kalau terjadi peperangan, panji itu pun hanya
dipegang olehnya.
Putranya,
Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiallâhu 'anhu adalah seorang penulis wahyu.
Ia pernah diangkat menjadi gubernur negeri Syam sebelum pemerintahan Khalifah
Umar ibnul-Khaththab radhiallâhu 'anhu. Putrinya, Ramlah binti Abu
Sufyan radhiallâhu 'anha. (Ummu Habibah), adalah istri Nabi Shallallahu
'alaihi wasallam . Dan termasuk salah seorang dari Ummahaatul Mukminin radhiallahu
'anhunna.
Ummu
Habibah, istri Abdullah bin Jahsy, pergi berhijrah ke negeri Habasyah bersama
dengan suaminya. Di negeri nun jauh itu tiba-tiba suaminya tergoda masuk agama
Nashrani. Karenanya, ia minta cerai. Sesudah berakhir 'iddahnya, Raja Najasyi
memanggilnya seraya berkata kepadanya, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam telah menulis surat kepada saya untuk mengawinkan anda dengan
beliau" .
Ramlah
lalu berkata, "semoga Allah akan menggembirakan dan membahagiakan Paduka
tuan juga!"
Ramlah
pun akhirnya menjadi isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika
Abu Sufyan mendengar berita perkawinan puterinya itu dengan Rasulullah, ia
berkata, "Unta jantan ini semoga tidak dipotong hidungnya!"
Abu
Sufyan mendengar dakwah yang dikumandangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam dan ternyata dia merupakan orang yagn paling gigih melawan dan
memeranginya. Dia pernah juga menyertai delegasi kaum Quraisy yang dikirim
menemui Abu Thalib, meminta kepadanya supaya mau menyerahkan keponakannya
(Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam) untuk disembelih oleh mereka,
dengan syarat akan menggantikannya dengan seorang pemuda Quraisy lainya yang
mereka pandang lebih mendatangkan keberuntungan bagi mereka semua.
Dia
juga pernah mengadakan persekutuan jahat dengan pemimpin Quraisy lainnya
terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum
muslimin, dengan mendatangkan surat pernyataan memblokade Bani Hasyim, yaitu
tidak mengadakan hubungan perkawinan dan jual-beli dengan mereka.
Tiba
saatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin pergi
berhijrah ke Madinah. Ternyata, kaum muslimin hidup aman dan berbahagia di
negeri yang tentram ini.
Pada
suatu saat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui bahwa Abu
Sufyan sedang dalam perjalanan dari Syam ke Mekkah, memimpin kafilah dagang
kaum Quraisy, kaum yang selama lebih dari sepuluh tahun telah menyiksa dan
menyengsarakan mereka, yang telah mengusir mereka keluar dari negerinya dan
juga merampas harta kekayaannya. Abu Sufyan sendiri terlibat dalam perbuatan
jahat dan keji itu.
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan hal itu, terutama kepada
kaum Muhajirin, "Kafilah dagang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan
segera akan melintasi daerah kita. Marilah kita keluar mencegatnya. Barangkali
Allah akan menggantikan apa-apa yang telah mereka rampas dari kita
dahulu!"
Ketika
tiba di perbatasan Hijaz, Abu Sufyan mulai dirundung firasat tidak enak. Ia
selalu bertanya kepada setiap orang atau kafilah yang datang dari jurusan
Madinah dengan perasaan was-was dan takut. Akhirnya ia mendengar dari salah
satu sumber yang meyakinkan bahwa Muhammad telah mengerahkan orang-orangnya
untuk mencegat kafilah yang dipimpinnya.
Abu
Sufyan lalu membayar seorang kurir untuk mengirimkan kabar tentang hal itu ke
kota Mekkah, namanya Dhamdham bin Amru al-Ghifari. Dalam pesannya itu, ia
berharap supaya kaum Quraisy mengirimkan pasukannya untuk melindungi kafilah
yang dipimpinnya dari serangan Muhammad dan para sahabatnya.
Ternyata
diluar dugaan, Abu Sufyan berhasil menempuh jalan keluar dari kepungan Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Ia segera mengirim kurir yang
lain untuk menemui kaum Quraisy yang hendak melindungi kafilahnya. Ia
berkata, "Kalian keluar untuk menyelamatkan kafilah, harta, dan
orang-orang kalian. Kini, semuanya itu sudah diselamatkan oleh Allah. Kami
harap kalian segera kembali ke Mekkah".
Abu
Jahal berkata kepada anggota pasukannya , "Demi Allah, kami tidak akan
kembali hingga sampai ke Badar. Disana, kami akan berdiam tiga hari tiga malam,
bersuka ria, memotong ternak, makan-makan, minum-minuman keras, dan wanita
menyanyi dan menari agar bangsa Arab mendengar dan mengetahui perjalanan
dan berkumpulnya kami, dan senantiasa menakuti kami. Ayo jalan terus!"
Terjadilah
peperangan di Badar antara pasukan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam dan pasukan yang dipimpin Abu Jahal. Dalam peperangan itu,
Abu Jahal dan banyak tokoh Quraisy lain tewas, dan banyak juga yang tertawan.
Diantara yang tertawan itu adalah Abul 'Ash bin ar-Rabi', suami Zainab binti
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam . Kaum Quraisy mengirimkan
tebusan untuk pembebasan para tawanannya, sedangkan Zainab binti Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam mengirimkan liontin pemberian ibunya, Khadijah binti
Khuwalid.
Setelah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, lalu ia bersabda
kepada para sahabatnya dengan penuh haru, "Kalau kalian ridha melepaskan
tawanannya dan mengembalikan hartanya, silahkan!"
Mereka
menyambutnya, "Baiklah, ya Rasulullah!"
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam meminta janji Abul 'Ash bahwa ia akan
melepaskan putrinya, Zainab, pergi ke Madinah. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam telah mengirimkan Zaid bin Haritsah dan seorang lainnya
dari orang Anshar untuk mengawalnya. Rasulullah bersabda kepada orang itu, "Kalian
berdua hendaklah menunggu kedatangan Zainab di Lembah Ya'jaj kemudian
menyertainya hingga datang ke sini".
Sesudah
Abul 'Ash tiba di Mekkah, ia langsung memerintahkan Zainab (isterinya) pergi ke
Madinah untuk menyusul ayahnya. Sesudah keberangkatannya dipersiapkan, ia
meminta kepada saudaranya, Kinanah bin ar-Rabi', untuk mengawal keberangaktan
isterinya itu. Kinanah berangkat di siang hari dengan mengendarai unta,
membawa panah dan busurnya, sedangkan sayyidatina Zainab di atas haudaj.
Keluarnya
Zainab ini sempat membuat ketegangan di kalangan kaum Quraisy yang baru kalah
perang di Badar. Mereka mengejarnya dan berhasil menyusulnya di suatu tempat
yang bernama Dzi Thuwa. Orang yang pertama berhasil mengejarnya ialah
Hubar bin al-Aswad bin Abdul Muththalib bin Ased.
Kinanah
dengan cekatan menghadang Hubar seraya berkata, "Demi Allah, jangan ada
yang mendekati kami. Kalau tidak, aku tidak ragu-ragu melepaskan panahku
ini". Orang-orang pun menjauh darinya.
Tak
lama setelah itu, Abu Sufyan datang dengan rombongannya hendak melerai kedua
rombonga itu. Ia berkata: "Kinanah! Masukkanlah anak panahmu. Kami akan
berbicara denganmu". Ia pun lalu memasukkan anak panahnya ke sarungnya.
Abu
Sufyan lalu menasehatinya: "Kamu tidak tepat membawa keluar wanita
itu di siang hari, padahal kamu tahu benar apa yang telah dilakukan Muhammad
terhadap tokoh kita di Badar baru-baru ini. Dengan mengeluarkan putrinya di
siang hari dari tengah-tengah kita, akan menimbulkan anggapan pada
masyarakat bahwa kita melakukannya dalam keadaan hina dan lemah. Kami tidak
berkepentingan untuk memisahkannya dari ayahnya, namun kami ingin wanita itu
dibawa dahulu ke Mekkah, sampai suara-suara yang membicarakan kekalahan perang
di Badar itu usai, barulah kamu membawanya keluar secara diam-diam.
Kinanah
membawa Zainab kembali lagi ke Mekkah. Sesudah beberapa malam, ketika pembicaraan
Quraisy tentang kekalahannya sudah mulai mereda, barulah ia membawa keluar
dengan diam-diam dan menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan rekannya itu.
Dalam
keadaan seperti itu, Abu Sufyan telah bertindak bijaksana sekali hingga dapat
mengekang amarah kaum Quraisy yang sedang berkobar-kobar dan sekaligus berhasil
juga memenuhi keinginan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk
mengirimkan putrinya ke Madinah.
Belum
setahun dari kekalahanya di Badar, kaum Qurasiy telah berhasil mengarahkan kabilah-kabilah
yang ada di sekitar Mekkah untuk emerangi Muhammad. Abrang dagangan dari
kafilah yang berhasil diselamatkan dari akum muslimin dahulu itu diapakai
sebagfai modal utama untuk membiayai peperangan yang akan mereka lancarkan.
Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan sendiri. Ia Keluar dengan isterinya, Hindun
binti Utbah.
Ternyata,
dalam peperangan itu, kaum Quraisy meraih kemenangan karena pasukan panah kaum
muslimin melanggar perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk
tidak meninggalkan kedudukannya di atas Bukit Uhud. Allah Ta'ala ingin
memelihara kaum muslimin yang akan mengemban tugas menyebarkan agama-Nya ke
seluruh penjuru dunia, agar mereka senantiasa bersatu padu, tidak bercerai
berai, dan selalu kompak dan patuh pada perintah pimpinannya.
Sesudah
peperangan usai, Abu Sufyan naik ke atas puncak Gunung Uhud seraya berteriak
dengan suara keras, "Peperangan berakhir dengan seri, Perang Badar dengan
perang Uhud. Pujalah Dewa Hubal, agamamu telah menang!"
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai Umar, jawablah mereka
dan katakanlah, 'Allah Maha Agung. Mayat orang-orang kami di surga dan mayat
orang-orang kalian di api neraka".
Sesudah
Umar menjawab pertanyaannya, Abu Sufyan berkata kepadanya, "Wahai Umar,
mari Anda ke sini!"
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada Umar,
"Hampirilah, Umar! Apa maunya?"
Umar
pergi menghampirinya, lalu Abu Sufyan bertanya, "Saya mohon kepadamu,
wahai Umar apakah pasukan kami telah membunuh Muhammad ?"
Umar
menjawab, "Demi Allah, tidak. Dia mendengar bicaramu itu hingga
kini".
Ia
lalu berkata dengan tegas: "Saya lebih percaya kepadamu daripada Ibnu
Qamiah, yang mengatakan ia telah berhasil membunuh Muhammad!"
Sewaktu
ia akan kembali pulang, Abu Sufyan mengatakan lagi, "Kita akan bertemu
lagi di tahun yang akan datang di Badar".
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan salah seorang sahabat untuk
menjawab tantangan Abu Sufyan itu, "Katakanlah kepadanya, kami akan
sambut tantanganmu".
Abu
Sufyan kembali dengan pasukannya. Di tengah jalan, ada seorang yang berkata
kepada mereka, "Kita memang telah membunuh banyak pimpinan tertinggi kaum
muslimin. Akan tetapi, mengapa kita tidak menumpas sisa-sisanya agar tidak
memberikan kesempatan hidup lagi kepada mereka?"
Abu
Sufyan termakan oleh pendapat itu. Akan tetapi, belum sempat ia memutar kepala
kudanya, ia melihat Ma'bad bin Ma'bad al-Khuza'i datang dari arah uhud. Abu
Sufyan lalu bertanya kepadanya, "Ada kabar apa, wahai Ma'bad?"
Ia
menjawab, "Muhammad dan kawan-kawanya sedang mengejar-ngejar kalian dengan
pasukan yang tiada taranya. Orang-orang yang tidak ikut berperang bersamanya,
kini sedang berkumpul dan menyesali diri. Mereka dengan perasaan marah akan
mengejar kalian dan membalas dendam atas kekejaman yang derita
kawan-kawannya".
Abu
Sufyan mengigil ketakutan. Ia bertanya, "Celaka, Apa katamu?"
Ma'bad
berkata lagi, menegaskan: "Menurut pendapat saya, sebaiknya kalian
cepat-cepat pulang kembali!"
Abu
Sufyan berkata kepadanya: "Sesungguhnya kami berniat akan kembali dan
menumpas sisa tokoh mereka yang masih hidup".
Ma'bad
menasehati mereka, "Saya menasehatimu, janganlah Anda
melakukannya!"
Setelah
mendengar nasihat Ma'bad, mereka cepat-cepat kembali pulang ke Mekkah.
Abu
Sufyan telah mengerahkan pasukannya dan mendatangkannya untuk menyerang kaum
muslimin di Uhud. Dia juga telah bertindak sebagai panglima tertinggi dalam
peperangan ini sehingga banyak sahabat pilihan Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam yang tewas karenanya, bahkan ia telah berjanji akan melancarkan
serangan lagi tahun depan.
Lalu,
apa yang mungkin dilakukan sedangkan kekayaan, perlengkapan, dan pasukan mereka
tidak terbilang banyaknya?
Memang
Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Lahab sudah tewas. Kalau Abu Sufyan
termasuk orang yang tewas juga tentu keadaan akan berubah jauh, tentu banyak
orang yang menganut Islam dengan terang-terangan.
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam bermusyawarah dengan para sahabatnya
tentang Abu Sufyan; ternyata banyak diantara mereka yang memberikan saran
supaya dibunuh saja. Ia bertanggung jawab atas tewasanya para sahabat pilihan
di medan Uhud. Jadi, kalau ia di bunuh, ini hanya merupakan qishas semata-mata,
bukan suatu tindakan kejahatan. Rasululklah Shallallahu 'alaihi wasallam puas
atas hasil musyawarah itu.
Akhirnya,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memutuskan untuk mengirimkan
Amru bin Umayyah ad-Dhamri dan seorang dari golongan Anshar pergi ke Mekkah
untuk membunuh Abu Sufyan.
Kedua
orang itu pergi memenuhi perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Amru
menceritakan misinya, "Saya keluar bersama rekan saya yang kurang sehat.
Saya membawanya diatas untaku hingga mencapai Lembah Ya'jaj, tidak jauh dari
Mekkah.
Aku
berkata kepada rekanku: "Kita tinggalkan unta kita disini dan kita pergi
mencari Abu Sufyan dan membunuhnya. Kalau kamu melihat sesuatu yang
mengkhawatirkan, cepat-cepat pergi ke tempat unta itu dan kembali menemui
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan ceritakan apa-apa yang telah
terjadi kepadanya, tidak usah memikirkan aku'.
Kami
memasuki kota Mekkah. Aku menyandang sebilah Khanjar (belati). Aku sengaja
persiapkan kepada siapa-sapa saja yang menghalang-halangiku. Rekanku berkata
kepadanya, 'Apakah tidak sebaiknya kita Thawaf dahulu dan Shalat dua raka'at?'
Saya
menjawabnya, 'Biasanya penduduk kota Mekkah duduk-duduk di halaman rumah
mereka dan saya mengenali mereka'.
Kami
memasuki Baitullah, lalu kami thawaf dan shalat dua raka'at disana, kemudian
kami keluar dan melewati tempat mereka duduk-duduk. Ternyata, sebagian dari
mereka mengenaliku, lalu berteriak sekeras-kerasnya, 'Itu Amru bin Umayyah'.
Penduduk
kota Mekkah keluar mengejar kami dan berkata:' dia tidak datang melainkan utnuk
melakukan suatu kejahatan'.
Aku
berkata kepada rekanku, 'Selamatkan dirimu!'
Kami
melarikan diri keatas gunung, lalu memasuki sebuah gua. Kami bermalam dua hari
dua malam disana, menunggu keadaan tenang. Tiba-tiba Utsman bin Malik dengan
menunggang kuda ada di pintu goa. Saya keluar dan menikamnya dengan khanjarku.
Dia berteriak dengan sekeras-kerasnya sehingga penduduk Mekkah datang
menghampirinya, sedangkan saya kembali bersembunyi. Mereka menemukannya sudah
dalam keadaan sekarat. Mereka bertanya kepadanya, 'Siapa yang menikammu?'
Dia
menjawab, 'Amru bin Umayyah,' lalu ia menghembuskan napas terakhirnya dan tak
sempat memberitahukan kepadanya tempat persembunyianku. Kini mereka disibukan
mengurusi mayatnya sehingga tidak sempat mencari tempat persembunyianku.
Aku tinggal di gua itu dua hari lagi sampai keadaan menjadi benar-benar tenang.
Setelah
itu, kami keluar menuju Tan'im, suatu tempat yang tidak jauh dari Mekkah.
Disana, saya menemukam mayat Khubaib tergantung diatas sebuah kayu;
disekitarnya terdapat beberapa orang pengawal. Saya menurunkan mayatnya, lalu
memanggulnya. Belum sampai empat puluh langkah dari tempatnya, mereka sadar dan
mengejar saya. Saya meletakkan mayat Khubaib dan melarikan diri, sampai mereka
tidak mengejarku lagi. Adapun rekanku telah kembali dengan mengendarai untanya
dan menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam mengenai mayat Khubaib, sejak saat itu tidak terlihat lagi,
seolah-olah telah di telan bumi".
Dikisahkan
bahwa Abu Sufyan berkata kepada Khubaib ketika hendak dibinihnya, "Ya
Khubaib, maukah kau kalau menggantikan tempatmu sekarang, akan kami
penggal batang lehernya sedangkan aku duduk dengan keluargaku."
Abu
Sufyan terheran-heran, "Belum pernah aku melihat ada seseorang yang
mencintai seseorang lebih dari sahabat Muhammad mencintai Muhammad." Dia pun
lalu dibunuhnya.
Sudah
menjadi takdir Allah Ta'ala bahwa Abu Sufyan tidak mati terbunuh. Misi 'Amru
bin Umayyah gagal untuk membunuhnya. Abu Sufyan hidup dan berkesempatan untuk
mengerahkan para kabilah Arab untuk memerangi Muhammad Shallallahu 'alaihi
wasallam. Kali ini, ia bertujuan untuk menyerang kota Madinah. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam mencium rencana jahat mereka, lalu baginda memerintahkan
kaum muslimin untuk menggali parit sesuai dengan saran Salman al-Farisi radhiallâhu
'anhu. Begitu parit itu selesai digali, pasukan Quraisy dibawah pimpinan
Abu Sufyan tiba, tetapi mereka tidak berhasil menerobos kota Madinah. Mereka
mendirikan perkemahannya di luar parit itu. Pada saat itu, kaum muslimin
menghadapi musuh baru dari Madinah yaitu kaum Yahudi. Pada waktu itu Huyai bin
Ahthab datang menemui Ka'ab bin Asad, pimpinan baru Quraizhah. Dia sudah
mengadakan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam atas
nama kaumnya. Ia lalu menutup pintu bentengnnya dan tidak memberi izin kepada
Huyai untuk memasukinya, seraya berkata, 'Kau seorang yang sial. Saya sudah
mengadakan perjanjian dengan Muhammad dan ternyata dia tetap setia dengan
perjanjiannya itu".
Huyai
menjawab, "wahai Ka'ab, saya datang membawa berita gembira dan kemuliaan
abadi. Saya datang kepadamu dengan membawa pimpinan Quraisy dan Ghathafan.
Mereka sudah berjanji kepadaku untuk tidak akan meninggalkan negeri ini sebelum
menumpas Muhammad dan para sahabatnya".
Ka'ab
menjawab: "Kalau begitu, kau telah mengundang kehinaan abadi!" Celaka
kau, wahai Huyai, biarkanlah aku bersama dengan Muhammad!"
Akan
tetapi, Huyai tidak membiarkan Ka'ab melepaskan diri dari cengkramanannya,
sampai ia mau melanggar perjanjian yang telah dibuat dengan Muhammad Shallallahu
'alaihi wasallam . Dia mengadakan perjanjian dengan Huyai, "Kalau
sampai Quraisy dan Ghathafan kembali dan tidak berhasil menumpas Muhammad, saya
akan berjanji memasuki bentengmu dan hidup senasib dengan kau!"
Pada
saat itu, kaum muslimin menderita ketakutan yang luar biasa karena
harus menghadapi dua front: Quraisy dan Ghathafan dari luar serta Yahudi Bani
Quraizhah dari dalam, seperti yang dilukiskan dalam Al-Qur'an:
"(Yaitu)
ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak
tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan
kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah
diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang
sangat." (QS. Al-Ahzab: 10-11)
Malapetaka
ini terjadi karena lebih dari dua puluh malam, kedua pasukan yang sudah
berhadapan itu tidak dapat berbuat selain menggunakan panahnya
masing-masing. Tiba-tiba Nu'aim bin Mas'ud al-Asyja'i datang menemui
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai
Rasulullah, aku ini sudah masuk Islam, tetapi kaumku belum ada yang tahu.
Perintahlah aku sesuka hatimu".
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Kamu hanya sendirian.
Lakukanlah apa yang mungkin kamu lakukan untuk menyelamatkan kami karena
peperangan itu tipu daya".
Nu'aim
lalu pergi menemui tokoh-tokoh bani Quraizhah. Kebetulan di zaman jahiliyyah,
mereka bersahabat . Nu'aim berkata kepada mereka: "kalian sudah mengetahui
hubungan baik antara aku dan kalian".
Mereka
menjawab: "Memang, kami tidak mempunyai kecurigaan sedikitpun
terhadapmu".
Lalu,
sambungnya lagi, "Kalian telah membela Quraisy dan Ghathafan melawan
Muhammad padahal mereka tidak senasib dengan kalian. Negeri ini adalah tanah
airmu; disana terdapat kekayaan, anak-anak, dan isteri-isterimu, dan kalian
tidak mungkin bisa meninggalkan semua itu, sedangkan Quraisy dan Ghathafan,
kalau mereka melihat kemenangan, mereka akan ribut, kalau mereka melihat lain
dari itu, mereka akan melarikan diri ke negeri mereka dan meninggalkan kalian
menjadi makanan empuk Muhammad dan kalian pasti tidak akan sanggup melawannya.
Janganlah kalian memeranginya sebelum kalian mendapat jaminan dari tokoh-tokoh
mereka agar kalian yakin bahwa mereka tidak akan meninggalkan kalian sebelum
mereka berhasil menumpas Muhammad".
Mereka
menjawab, "Sungguh, nasihatmu itu tepat sekali!"
Kemudian
Nu'aim pergi menemui Abu Sufyan dan tokoh Quraisy lainya, seraya berkata,
"Kalian sudan mengetahui hubungan baikku dengan kalian dan kerengganganku
dengan Muhammad. Saya mendengar bahwa Bani Quraizhah menyesali tindakannya dan
mereka telah mengirim delegasi kepada Muhammad dan menanyakan, 'Apakah Anda mau
menerima kalau kami meminta jaminan tokoh-tokoh Quraisy dan Ghathafan,
kemudian kami serahkan kepada Anda untuk dipenggal batang leher mereka,
kemudian kami dan anda memperkuat persahabatan yang telah ada?"
Tampaknya,
tawaran mereka itu diterima baik. Jadi, kalau mereka meminta jaminan
tokoh-tokoh kalian, janganlah kalian memenuhinyya meskipun hanya seorang
saja".